Kisah Kasrin. Tukang Becak Naik Haji Secara Misterius
Bawa Bekal Rp 2 Juta, Tak Terlihat saat Naik Pesawat
PENGAKUAN Kasrin (60),
Warga Dukuh Gembul, Desa
Sumberejo, Kecamatan
Pamotan, Kabupaten Rembang,
Jawa Tengah, memang tidak
masuk akal. Tapi, menurut
dia, memang seperti itulah
kenyataannya. Dia pergi haji
hanya dengan bekal Rp 2 juta.
KASRIN yang berprofesi sebagai tukang becak dan biasa mangkal di Masjid Jami Lasem itu mengatakan perjalanannya tidak lepas dari sosok gaib bernama Indi. Sosok itu yang menawari Kasrin berangkat haji tanpa
harus mendaftar atau mengurus dokumen. Bu Indi merupakan langganan becak Kasrin sejak kecil. Menurut Kasrin kini Indi usianya sudah 21 tahun. Ayah empat anak itu menjelaskan kalau tidak ada yang bisa melihat Indi selain dirinya.
"Sebelum berangkat, saya diingatkan Bu Indi agar tidak bicara selama 44 hari itu, selama haji," kata Kasrin kepada wartawan.
Syarat itu dilakukannya dan selama itu pula Kasrin merasa tidak ada yang menyadari keberadaannya meski banyak orang termasuk Jamaah haji lainnya. Sejak berangkat dan sampai
Thursday, 6 October 2016
Menanti Fatwa untuk Dimas Kanjeng
Dalam beragama, kita pun diperintahkan menggunakan akal pikiran, termasuk saat menyaksikan fenomena sosial, seperti Dimas Kanjeng.
asus Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjadi fenomena gunung es betapa masyarakat kita masih dengan mudah percaya pada praktik perdukunan. Ribuan orang yang bermukim di Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur, menjadi bukti sahihnya. Mereka rela menjadi pengikut Dimas Kanjeng demi mendapatkan uang yang berlipat ganda.
Padahal, sudah terbukti bahwa duit yang digandakan Dimas Kanjeng merupakan uang palsu. Dimas Kanjeng juga diduga melakukan penggandaan uang dengan menipu para pengikutnya. Lewat jubah-jubahnya yang berkantong banyak, dia mendemonstrasikan keahliannya menggandakan uang.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan kajian terkait ajaran yang dipraktikkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan pengikutnya di padepokan. Menurut Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin, fatwa terkait ajaran Dimas Kanjeng akan terbit dalam waktu dekat. Namun, Kiai Ma'ruf memastikan, ada indikasi sesat dari ajaran ini. Indikasi kesesatan itu, menurut Rais
Aam PBNU ini, karena Dimas Kanjeng menyampaikan ajaran bahwa dirinya merupakan tokoh yang kun fa yakun. "Artinya, lambang sebagai yang bersifat Tuhan," kata Kiai Ma'ruf.
Pengakuan Dimas Kanjeng bahwa dia memiliki peliharaan jin untuk menggandakan uang kepada petugas polisi pun menjadi pertanyaan. Kalaupun hubungan antara Dimas Kanjeng dengan jin benar adanya, hubungan tersebut merupakan hubungan terlarang. Sesuai dengan firman Allah SWT
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (manusia dan jin), (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami (manusia) telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain (jin) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat tinggal kamu semua, sedang kamu semua kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)'." (QS al-An'am [6]: 128).
Di dalam tafsimya. Ibnu Katsir rahima-hullah juga mengutip perkataan al-Hasan, "Arti sebagian jin dan manusia saling mendapat kesenangan satu sama lain, tidak lain ialah jin telah memerintahkan dan mempekerjakan manusia." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dengan diringkas, tentang surah al-An'am [6]: ayat 128).
Dalam beragama, kita pun diperintahkan menggunakan akal pikiran, termasuk saat menyaksikan fenomena sosial, seperti Dimas Kanjeng. Sudah seyogianya kita
bertanya kepada jiwa, apakah masuk akal uang tersebut digandakan dalam sekejap? Islam adalah agama yang memberikan penghargaan tinggi terhadap akal. Kata Rasulullah SAW, "Agama ialah penggunaan akal, tiada arti agama bagi orang yang tidak mempergunakan akalnya." Alquran menyebut kata akal lebih dari 50 kali, semua menunjukkan perintah bagi manusia agar mau mempergunakan akalnya.
Firman-Nya, "Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar akan bertemu dengan Tuhannya."(QS ar-Rum: 8).
Tak-hanya itu, Rasulullah SAW pun
melarang keras umatnya untuk mendatangi dukun semacam Dimas Kanjeng. Shalat seorang Muslim akan percuma jika dia percaya kepada manusia seperti Dimas Kanjeng. "Barang siapa yang datang kepada tukang ramai (ahli nujum), lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam."
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebenarnya sudah mengeluarkan fatwa tentang perdukunan dan peramalan. Menurut MUI, segala bentuk praktik perdukunan (kananah) dan peramalah (iraafah) hukumnya haram. Begitu juga memublikasikannya. Haram juga orang yang memanfaatkan menggunakan dan atau memercayai segala praktik tersebut.
Sebenarnya, kemunculan Dimas Kanjeng Taat Pribadi tidak perlu terjadi andai umat Islam bisa memaknai dan mengamalkan tuntunan agama untuk mencari harta. Allah SWT menyuruh kepada para hamba-Nya untuk berpayah-payah mencari rezeki yang halal. "Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah." (QS al-Muzzammil: 20)
Nabi dan rasul yang diutus Tuhan pun bekerja mencari nafkah yang halal dan tha-yib. Status sebagai utusan Tuhan tak membuat mereka jemawa lantas meminta deskresi agar turun uang dari langit Sejarah mencatat bagaimana Nabi Adam bercocok tanam Nabi Idris menjahit, Nabi Daud bekerja membuat baju besi. Nabi Musa menggembala, dan Rasulullah Muhammad SAW berdagang. Semestinya, kita belajar dari Nabi dan Rasul yang notabene makhluk paling dekat dengan Tuhan. WalUahu a'lam. m
Dalam beragama, kita pun diperintahkan menggunakan akal pikiran, termasuk saat menyaksikan fenomena sosial, seperti Dimas Kanjeng.
asus Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjadi fenomena gunung es betapa masyarakat kita masih dengan mudah percaya pada praktik perdukunan. Ribuan orang yang bermukim di Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur, menjadi bukti sahihnya. Mereka rela menjadi pengikut Dimas Kanjeng demi mendapatkan uang yang berlipat ganda.
Padahal, sudah terbukti bahwa duit yang digandakan Dimas Kanjeng merupakan uang palsu. Dimas Kanjeng juga diduga melakukan penggandaan uang dengan menipu para pengikutnya. Lewat jubah-jubahnya yang berkantong banyak, dia mendemonstrasikan keahliannya menggandakan uang.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan kajian terkait ajaran yang dipraktikkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan pengikutnya di padepokan. Menurut Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin, fatwa terkait ajaran Dimas Kanjeng akan terbit dalam waktu dekat. Namun, Kiai Ma'ruf memastikan, ada indikasi sesat dari ajaran ini. Indikasi kesesatan itu, menurut Rais
Aam PBNU ini, karena Dimas Kanjeng menyampaikan ajaran bahwa dirinya merupakan tokoh yang kun fa yakun. "Artinya, lambang sebagai yang bersifat Tuhan," kata Kiai Ma'ruf.
Pengakuan Dimas Kanjeng bahwa dia memiliki peliharaan jin untuk menggandakan uang kepada petugas polisi pun menjadi pertanyaan. Kalaupun hubungan antara Dimas Kanjeng dengan jin benar adanya, hubungan tersebut merupakan hubungan terlarang. Sesuai dengan firman Allah SWT
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (manusia dan jin), (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami (manusia) telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain (jin) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat tinggal kamu semua, sedang kamu semua kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)'." (QS al-An'am [6]: 128).
Di dalam tafsimya. Ibnu Katsir rahima-hullah juga mengutip perkataan al-Hasan, "Arti sebagian jin dan manusia saling mendapat kesenangan satu sama lain, tidak lain ialah jin telah memerintahkan dan mempekerjakan manusia." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dengan diringkas, tentang surah al-An'am [6]: ayat 128).
Dalam beragama, kita pun diperintahkan menggunakan akal pikiran, termasuk saat menyaksikan fenomena sosial, seperti Dimas Kanjeng. Sudah seyogianya kita
bertanya kepada jiwa, apakah masuk akal uang tersebut digandakan dalam sekejap? Islam adalah agama yang memberikan penghargaan tinggi terhadap akal. Kata Rasulullah SAW, "Agama ialah penggunaan akal, tiada arti agama bagi orang yang tidak mempergunakan akalnya." Alquran menyebut kata akal lebih dari 50 kali, semua menunjukkan perintah bagi manusia agar mau mempergunakan akalnya.
Firman-Nya, "Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar akan bertemu dengan Tuhannya."(QS ar-Rum: 8).
Tak-hanya itu, Rasulullah SAW pun
melarang keras umatnya untuk mendatangi dukun semacam Dimas Kanjeng. Shalat seorang Muslim akan percuma jika dia percaya kepada manusia seperti Dimas Kanjeng. "Barang siapa yang datang kepada tukang ramai (ahli nujum), lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam."
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebenarnya sudah mengeluarkan fatwa tentang perdukunan dan peramalan. Menurut MUI, segala bentuk praktik perdukunan (kananah) dan peramalah (iraafah) hukumnya haram. Begitu juga memublikasikannya. Haram juga orang yang memanfaatkan menggunakan dan atau memercayai segala praktik tersebut.
Sebenarnya, kemunculan Dimas Kanjeng Taat Pribadi tidak perlu terjadi andai umat Islam bisa memaknai dan mengamalkan tuntunan agama untuk mencari harta. Allah SWT menyuruh kepada para hamba-Nya untuk berpayah-payah mencari rezeki yang halal. "Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah." (QS al-Muzzammil: 20)
Nabi dan rasul yang diutus Tuhan pun bekerja mencari nafkah yang halal dan tha-yib. Status sebagai utusan Tuhan tak membuat mereka jemawa lantas meminta deskresi agar turun uang dari langit Sejarah mencatat bagaimana Nabi Adam bercocok tanam Nabi Idris menjahit, Nabi Daud bekerja membuat baju besi. Nabi Musa menggembala, dan Rasulullah Muhammad SAW berdagang. Semestinya, kita belajar dari Nabi dan Rasul yang notabene makhluk paling dekat dengan Tuhan. WalUahu a'lam. m
IDs engender discrimination
resident Joko "Jokowi" Widodo raised much hope shortly after his term began when the government allowed citizens to leave blank the religion space on their identity cards. The policy followed the high expectations of Jokowi's presidential campaign, during which he championed human rights.
Home MinisterTjahjo Kumolo added later that citizens could list indigenous faiths if they wished, bringing a sense of relief that the government would recognize the country's diversity ofbeliefs despite the official recognition of only six religions. However, the new policy merely reaffirmed the discrimination against minorityfaiths, when citizens who had left their religion space blank or filled it with a native faith faced discrimination from authorities and prospective employers.
This has led representatives of four indigenous faiths to file a judicial review request at the Constitutional Court on the 2006 Population Law. Although the law refers to, Indonesia's ratification of the UN Convention on Human Rights and the Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, petitioners argue its stipulation that citizens of a faith not officially recognized should leave the space blank on their family card or ID amounts to discrimination. The law states that those who leave the spaces blank must still be registered and served but in practice this has frequently not been the case, the petitioners say.
Mundane activities such as arranging birth certificates, enrolling in school, seeking to marry and finding jobs have proven highly stressful and almost impossible for followers of minority faiths, whether or not they leave the ID space for religion blank.
For the sake of practicality many fill the spaces with any one of the state-sanctioned faiths — Islam, Protestantism, Catholicism, Hinduism, Buddhism or Confucianism — rather than be unable, for instance, to bury their loved ones in public cemeteries simply because the deceased was a follower of the Marapu faith of East Nusa Tenggara, or Parmalim of North Sumatra, to cite examples.
How the Constitutional Court rules will be a further test in ensuring equality for all citizens. Indonesians who take IDs for granted are mildly surprised when, for instance, traveling and filling in basic identity forms overseas that they are not required to provide their religion. Many insist that the religion space is needed —just in case of a fatal accident, some say, a Muslim would not want a Christian burial.
Regardless of those who laugh or take such arguments seriously, we are mostly oblivious to the discrimination faced from birth to death by minority faith followers —while those who prefer to be atheist understandably remain silent In 2012 Alexander Aan of supposedly devout West Sumatra, who posted "God doesn't exist" on his Facebook account, was imprisoned forblasphemy and inciting religious hostility.
Living up to the slogan of Bhinneka T-inggal Ika (unity in diversity) is getting harder by the day. Every time we learn we are more diverse than we think, some insist the majority has the right to define what is acceptable within our plurality.
The court will prove its credibility only if it can rule impartially and prioritize the fulfillment of equal rights of Indonesian citizens.
resident Joko "Jokowi" Widodo raised much hope shortly after his term began when the government allowed citizens to leave blank the religion space on their identity cards. The policy followed the high expectations of Jokowi's presidential campaign, during which he championed human rights.
Home MinisterTjahjo Kumolo added later that citizens could list indigenous faiths if they wished, bringing a sense of relief that the government would recognize the country's diversity ofbeliefs despite the official recognition of only six religions. However, the new policy merely reaffirmed the discrimination against minorityfaiths, when citizens who had left their religion space blank or filled it with a native faith faced discrimination from authorities and prospective employers.
This has led representatives of four indigenous faiths to file a judicial review request at the Constitutional Court on the 2006 Population Law. Although the law refers to, Indonesia's ratification of the UN Convention on Human Rights and the Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, petitioners argue its stipulation that citizens of a faith not officially recognized should leave the space blank on their family card or ID amounts to discrimination. The law states that those who leave the spaces blank must still be registered and served but in practice this has frequently not been the case, the petitioners say.
Mundane activities such as arranging birth certificates, enrolling in school, seeking to marry and finding jobs have proven highly stressful and almost impossible for followers of minority faiths, whether or not they leave the ID space for religion blank.
For the sake of practicality many fill the spaces with any one of the state-sanctioned faiths — Islam, Protestantism, Catholicism, Hinduism, Buddhism or Confucianism — rather than be unable, for instance, to bury their loved ones in public cemeteries simply because the deceased was a follower of the Marapu faith of East Nusa Tenggara, or Parmalim of North Sumatra, to cite examples.
How the Constitutional Court rules will be a further test in ensuring equality for all citizens. Indonesians who take IDs for granted are mildly surprised when, for instance, traveling and filling in basic identity forms overseas that they are not required to provide their religion. Many insist that the religion space is needed —just in case of a fatal accident, some say, a Muslim would not want a Christian burial.
Regardless of those who laugh or take such arguments seriously, we are mostly oblivious to the discrimination faced from birth to death by minority faith followers —while those who prefer to be atheist understandably remain silent In 2012 Alexander Aan of supposedly devout West Sumatra, who posted "God doesn't exist" on his Facebook account, was imprisoned forblasphemy and inciting religious hostility.
Living up to the slogan of Bhinneka T-inggal Ika (unity in diversity) is getting harder by the day. Every time we learn we are more diverse than we think, some insist the majority has the right to define what is acceptable within our plurality.
The court will prove its credibility only if it can rule impartially and prioritize the fulfillment of equal rights of Indonesian citizens.
Tim Sukses Anies-Sandi Gagas Gerakan Lima Puluh Ribu
JAKARTA (RP) - Tim pemenangan kandidat Cagub dan Cawagub DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno memiliki konsep "Gerakan Lima Puluh Ribu" untuk mengumpukan dana kampanye dan pemenangan Pilgub DKI.
Ide tersebut diutarakan Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi, Mardani Ali Sera. Bahkan, ia menyebut konsep itu terinspirasi dari Presiden AS Barack Obama.
"Kita berharap ada public engagement dan public funding karena Mas Anies mengingatkan ini bukan kampanye. Ini gerakan kampanye. Kita mengajak semua warga Jakarta aktif untuk bersama kita membangun gerakan agar Jakarta menjadi lebih baik,' kata
Mardani di Jakarta, Jumat (30/9).
Sebetulnya idenya banyak. Sejak zaman Obama di 2008 . kan sudah mulai one doUar until five dollars. Tidak lagi menggunakan para pengusaha besar. Pak Jokowi di 2012 juga sama. Di PKS ada gerakan Rp5O ribu memang," sambung dia.
Nantinya, kata Mardani, publik melalui relawan bisa terlibat langsung dalam hajat politik yang besar ini. Ia menambahkan, masyarakat Jakarta juga bisa ikut memantau langsung perkembangan dana kampanye.
"Kan sudah dibatasi perorangan maksimalnya, sudah ada aturannya. Kalau dari korporasi sudah ada batasan. Itu yang Iata pakai. Tapi kami tidak melihat
besaran. Seperti Rp50 ribu itu juga sudah bagus sekali. Ini sudah menunjukkan partisipasi publik kepada proses politik yang selama ini seperti teralien-asi, politik kerjaan orang Parpol. Kita mau ubah. Semua orang punya hak untuk mengubah Jakarta," tuturnya.
Untuk memastikan trans- ' paransi dari pengelolaan dana tersebut. Mardani berjanji akan membuat rekening khusus, yang bisa diakses oleh publik. "Selalu ada laporan yang ter-audit tiap bulannya. Ini hanw-jadi rekening bersama yang bisa diakses dan diaudit, dan kita punya pertanggungjawaban publik. Akan lebih jelas apanya, siapanya," tegasnya.(rmn/jpg)
JAKARTA (RP) - Tim pemenangan kandidat Cagub dan Cawagub DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno memiliki konsep "Gerakan Lima Puluh Ribu" untuk mengumpukan dana kampanye dan pemenangan Pilgub DKI.
Ide tersebut diutarakan Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi, Mardani Ali Sera. Bahkan, ia menyebut konsep itu terinspirasi dari Presiden AS Barack Obama.
"Kita berharap ada public engagement dan public funding karena Mas Anies mengingatkan ini bukan kampanye. Ini gerakan kampanye. Kita mengajak semua warga Jakarta aktif untuk bersama kita membangun gerakan agar Jakarta menjadi lebih baik,' kata
Mardani di Jakarta, Jumat (30/9).
Sebetulnya idenya banyak. Sejak zaman Obama di 2008 . kan sudah mulai one doUar until five dollars. Tidak lagi menggunakan para pengusaha besar. Pak Jokowi di 2012 juga sama. Di PKS ada gerakan Rp5O ribu memang," sambung dia.
Nantinya, kata Mardani, publik melalui relawan bisa terlibat langsung dalam hajat politik yang besar ini. Ia menambahkan, masyarakat Jakarta juga bisa ikut memantau langsung perkembangan dana kampanye.
"Kan sudah dibatasi perorangan maksimalnya, sudah ada aturannya. Kalau dari korporasi sudah ada batasan. Itu yang Iata pakai. Tapi kami tidak melihat
besaran. Seperti Rp50 ribu itu juga sudah bagus sekali. Ini sudah menunjukkan partisipasi publik kepada proses politik yang selama ini seperti teralien-asi, politik kerjaan orang Parpol. Kita mau ubah. Semua orang punya hak untuk mengubah Jakarta," tuturnya.
Untuk memastikan trans- ' paransi dari pengelolaan dana tersebut. Mardani berjanji akan membuat rekening khusus, yang bisa diakses oleh publik. "Selalu ada laporan yang ter-audit tiap bulannya. Ini hanw-jadi rekening bersama yang bisa diakses dan diaudit, dan kita punya pertanggungjawaban publik. Akan lebih jelas apanya, siapanya," tegasnya.(rmn/jpg)
THE WEST LAKE RESORT DIMINATI
Pernikahan Penuh Kesan dengan Nuansa Danau
SLEMAN (KR) - The West Lake Resort dengan suasana danau yang indah, menjadi pilihan pasangan pengantin Reisa dan Abraham. Pasangan dari Yogya ini menggelar akad nikah di dermaga resort, dilanjutkan resepsi yang dihadiri ratusan tamu undangan di Ball Room The West Lake Resort, Minggu (2/10) pagi hingga siang harinya.
Dermaga The West Lake didekorasi indah dengan kursi pengantin dan kursi tamu undangan selaku saksi akad nikah. Panorama danau yang tenang dengan kesejukan, semilir angin yang segar dan alami, didukung cuaca yang cerah membuat akad nikah berjalan khidmad penuh kesan. Tamu undangan pun tidak ketinggalan ikut mengabadikan saat-saat indah tersebut.
Kedua pengantin terlihat bahagia dan puas berbaur dengan tamu undangan usai akad nikah. Kemudian berfoto bersama para tamu dengan mengambil berbagai pemandangan dari danau, kolam renang exclusive hingga bangunan The West Lake Resort yang bergaya Jawa Kolonial itu. Dilanjutkan makan bersama dengan menu-
menu andalan The West Lake Resort.
Rama Soejatmiko dan Sentanu Wahyudi selaku owner menyebutkan, dengan lokasi strategis, tidak jauh dari pusat kota dengan suasana pedesaan di Ring Road Barat Bedog Trihanggo Sleman, The West Lake Resort telah menjadi ikon baru destinasi wisata dan MICE di Yogya. "Kami menyiapkan paket-paket menarik untuk wisata dan MICE," terang Rama.
Senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) DIY Udhi Sudiyanto. Ia menyebutkan kehadiran West Lake Resort mengangkat branding wisata DIYJateng dan menjadi peluang bagi biro perjalanan wisata dan travel untuk bekerja sama dengan The West Lake Resort dengan paket-paket wisata.
"Bangunan Jawa Kolonial menunjukkan, The West Lake Resort menjaga nuansa Yogya, dan banyak diminati turis mancanegara, termasuk dari Eropa yang menambah lama tinggal dengan suasana yang membuat betah," papar Udhi. (*-2)-a
Pernikahan Penuh Kesan dengan Nuansa Danau
SLEMAN (KR) - The West Lake Resort dengan suasana danau yang indah, menjadi pilihan pasangan pengantin Reisa dan Abraham. Pasangan dari Yogya ini menggelar akad nikah di dermaga resort, dilanjutkan resepsi yang dihadiri ratusan tamu undangan di Ball Room The West Lake Resort, Minggu (2/10) pagi hingga siang harinya.
Dermaga The West Lake didekorasi indah dengan kursi pengantin dan kursi tamu undangan selaku saksi akad nikah. Panorama danau yang tenang dengan kesejukan, semilir angin yang segar dan alami, didukung cuaca yang cerah membuat akad nikah berjalan khidmad penuh kesan. Tamu undangan pun tidak ketinggalan ikut mengabadikan saat-saat indah tersebut.
Kedua pengantin terlihat bahagia dan puas berbaur dengan tamu undangan usai akad nikah. Kemudian berfoto bersama para tamu dengan mengambil berbagai pemandangan dari danau, kolam renang exclusive hingga bangunan The West Lake Resort yang bergaya Jawa Kolonial itu. Dilanjutkan makan bersama dengan menu-
menu andalan The West Lake Resort.
Rama Soejatmiko dan Sentanu Wahyudi selaku owner menyebutkan, dengan lokasi strategis, tidak jauh dari pusat kota dengan suasana pedesaan di Ring Road Barat Bedog Trihanggo Sleman, The West Lake Resort telah menjadi ikon baru destinasi wisata dan MICE di Yogya. "Kami menyiapkan paket-paket menarik untuk wisata dan MICE," terang Rama.
Senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) DIY Udhi Sudiyanto. Ia menyebutkan kehadiran West Lake Resort mengangkat branding wisata DIYJateng dan menjadi peluang bagi biro perjalanan wisata dan travel untuk bekerja sama dengan The West Lake Resort dengan paket-paket wisata.
"Bangunan Jawa Kolonial menunjukkan, The West Lake Resort menjaga nuansa Yogya, dan banyak diminati turis mancanegara, termasuk dari Eropa yang menambah lama tinggal dengan suasana yang membuat betah," papar Udhi. (*-2)-a
Wednesday, 5 October 2016
Resmi Polisikan Mario Teguh
ARIO Kiswinar bersama sang ibunda Aryani melaporkan Moti-vator Mario Teguh ke Polda Metro Jaya, Jumat (30/9) siang.
Keduanya tampak menggunakan mobil Fortuner putih nomor polisi B 1292 SJQ ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya.
Dari pantauan, selain Ario dan Aryani, adapula tiga kuasa
hukumnya Baik Ario dan Aryani menolak memberikan pernyataan terkait kedatangannya.
"Nanti ya mas, mba" singkat dia sembari memasuki ruang SPKT.
Tak berapa lama, Ario dan Aryani ke luar dari ruang SPKT. Mereka lantas menuju Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Metro Jaya.
Dalam perjalanan menuju Ditreskrimsus yang berjarak
kurang lebih 100 meter, Ario sedikit memberikan komentar terkait kedatangannya ke Polda Metro Jaya.
"Mau ngelaporin saja," kata dia tanpa menyebutkan nama pihak yang akan dilaporkan.
Pelaporan itii karena somasi yang sudah pihaknya layangkan tak digubris oleh Mario sampai waktu yang ditentukan, yakni Kamis (29/9) kemarin.
Somasi untuk Mario Teguh se-
bagai balasan atas somasi yang dilayang motivator kondang tersebut kepada dirinya.
Karenanya, Ario dan ibunya Aryani Soenarto melaporkan Mario ke polisi. Ferry Amahorseya kuasa hukum Kiswinar membenarkan laporan itu.
"Mereka telah difitnah waktu dia (Mario Teguh) memberikan pernyataan di Kompas TV beberapa waktu lalu," katanya, (zul/pj/chi/jpnn)
ARIO Kiswinar bersama sang ibunda Aryani melaporkan Moti-vator Mario Teguh ke Polda Metro Jaya, Jumat (30/9) siang.
Keduanya tampak menggunakan mobil Fortuner putih nomor polisi B 1292 SJQ ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya.
Dari pantauan, selain Ario dan Aryani, adapula tiga kuasa
hukumnya Baik Ario dan Aryani menolak memberikan pernyataan terkait kedatangannya.
"Nanti ya mas, mba" singkat dia sembari memasuki ruang SPKT.
Tak berapa lama, Ario dan Aryani ke luar dari ruang SPKT. Mereka lantas menuju Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Metro Jaya.
Dalam perjalanan menuju Ditreskrimsus yang berjarak
kurang lebih 100 meter, Ario sedikit memberikan komentar terkait kedatangannya ke Polda Metro Jaya.
"Mau ngelaporin saja," kata dia tanpa menyebutkan nama pihak yang akan dilaporkan.
Pelaporan itii karena somasi yang sudah pihaknya layangkan tak digubris oleh Mario sampai waktu yang ditentukan, yakni Kamis (29/9) kemarin.
Somasi untuk Mario Teguh se-
bagai balasan atas somasi yang dilayang motivator kondang tersebut kepada dirinya.
Karenanya, Ario dan ibunya Aryani Soenarto melaporkan Mario ke polisi. Ferry Amahorseya kuasa hukum Kiswinar membenarkan laporan itu.
"Mereka telah difitnah waktu dia (Mario Teguh) memberikan pernyataan di Kompas TV beberapa waktu lalu," katanya, (zul/pj/chi/jpnn)
Jejak Belanda di Benteng Vredeburg
TERLETAK di titik strategis Kota Yogyakarta, Benteng Vredeburg menjadi salah satu objek wisata unggulan. Selain museum, benteng ini juga dilengkapi diorama mengenai sejarah Indonesia.
Dari berbagai sumber disebutkan, pendirian Benteng Vredeburg Yogyakarta terkait dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berhasil menuntaskan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono 111 dengan Pangeran Mangkubumi (kelak menjadi Sultan Hamengku Buwono I) merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin mencampuri urusan domestik raja-raja Jawa kala itu.
Pihak Belanda punya alasan, fungsi pembangunan benteng adalah agar Belanda dapat menjaga keamanan Kraton dan sekitarnya. Tapi di ba-
lik itu semua, Belanda cukup licik karena maksud yang sesungguhnya adalah untuk memudahkan dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam Kraton. Letak benteng yang hanya satujarak tembak meriam dari Kraton dan lokasinya yang menghadap ke jalan utama menuju Kraton, menjadi indikasi fungsi benteng diman-
faatkan sebagai gedung pengintai. Intinya tujuan pendirian benteng adalah mengawasi Sultan jika sewaktu-waktu memusuhi Belanda.
Awal konstruksi benteng dimulai tahun 1767. Sebelumnya, pada lokasi tersebut Sultan HB I telah membangun benteng sederhana berbentuk bujur sangkar. Pembangunannya tahun 1760. (Sal)-d
TERLETAK di titik strategis Kota Yogyakarta, Benteng Vredeburg menjadi salah satu objek wisata unggulan. Selain museum, benteng ini juga dilengkapi diorama mengenai sejarah Indonesia.
Dari berbagai sumber disebutkan, pendirian Benteng Vredeburg Yogyakarta terkait dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berhasil menuntaskan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono 111 dengan Pangeran Mangkubumi (kelak menjadi Sultan Hamengku Buwono I) merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin mencampuri urusan domestik raja-raja Jawa kala itu.
Pihak Belanda punya alasan, fungsi pembangunan benteng adalah agar Belanda dapat menjaga keamanan Kraton dan sekitarnya. Tapi di ba-
lik itu semua, Belanda cukup licik karena maksud yang sesungguhnya adalah untuk memudahkan dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam Kraton. Letak benteng yang hanya satujarak tembak meriam dari Kraton dan lokasinya yang menghadap ke jalan utama menuju Kraton, menjadi indikasi fungsi benteng diman-
faatkan sebagai gedung pengintai. Intinya tujuan pendirian benteng adalah mengawasi Sultan jika sewaktu-waktu memusuhi Belanda.
Awal konstruksi benteng dimulai tahun 1767. Sebelumnya, pada lokasi tersebut Sultan HB I telah membangun benteng sederhana berbentuk bujur sangkar. Pembangunannya tahun 1760. (Sal)-d
Subscribe to:
Posts (Atom)